Percaturan politik di Negara kita telah menyeret lembaga pesantren ke dalam tepi lembah perpecahan, hanya menunggu waktu untuk sedikit lagi jatuh. Bila kita cermati inilah perubahan terbesar yang hadir di dunia pesantren, kita pasti setuju bila saat ini pesantren adalah alat yang mempunyai nilai jual tersendiri dalam panggung politik, apakah itu dari segi kuantitas pemilih karena di dalam pesntren banyak sekali santri yang taat dengan iming-iming keberkahan dan takdzim mereka merelakan hak suara untuk menaati apapun yang di pilih oleh sang guru.
Dari segi kualitas, kita banyak melihat bahwa percaturan politik grass root dimulai di tingkat pesantren karena masyarakat akan melihat sesuatu hal yang di buat baik oleh kalangan kaum sarungan tersebut, kenapa meski demikian? Karena hingga saat ini pesantren mempunyai prestise tersendiri dalam masyarakat kecil, apakah itu karena pesantren adalah lembaga pendidikan paling murah atau meminta pencitraan agama dari sang guru.
Entah apa dan karena apa, pesantren berubah menjadi sebuah kekuatan politik terbesar dalam masyakat kita. Ini bukan tanpa fakta, dari berbagai pemilihan umum mulai dari tingkat desa hingga presiden, lembaga pesantren semakin laris berpolitik. Tentunya saya tak perlu ungkapkan lagi siapa berpasangan dengan siapa dan apa hasilnya, anda sudah lebih tahu hal tersebut.
Perubahan fungsi ini seharusnya membuat kita berpikir dan takut dengan eksistensi pesantren pada beberapa tahun kemudian. Baiklah bila selama ini kita menganggap bahwa markas politik kaum Nahdiyin adalah pesantren agaknya pikiran seperti itu harus kita buang jauh-jauh, karena NU tidak pernah melahirkan pesantren tetapi pesantren adalah cikal bakal lahirnya NU.
Oleh karena itu, bila kita beranalogi, pesantren adalah ruh yang ada dalam diri NU, bila ruh itu hilang atau rusak maka anda tahu sendiri akibatnya, tentunya orang akan berpikir untuk menitipkan putra-putrinya untuk di pesantrenkan karena mereka akan menganggap pesantren bukan lagi jalan untuk mencari ketenangan akhirat tetapi untuk mendapatkan kesenangan dunia yang dengan gagah berkata: :Saya alumni pesantren jurusan politik”, apakah hal tersebut kita inginkan, tentu tidak bukan?
No Response to "Pesantren (bukan) “sarang” politik"
Posting Komentar