Hari itu adalah hari yang paling melelahkan; setelah pulang dari kampus, saya memilih untuk langsung rebahan di atas tumpukan kapuk, seharian tadi ada saja urusan yang harus saya selesaikan, dari mulai bimbingan skripsi untuk mengejar deadline wisuda periode ini hingga rapat koordinasi panitia bedah buku yang selenggarakan oleh UPT. Perpustakaan di kampus- saat ini saya menjadi bagian tenaga part time di perputakaan.
Aktivitas-aktivitas ini yang lazim saya ulangi hari demi hari, begitu seterusnya. Namun hari ini badan saya terasa lelah sekali, karena saya dan jajaran panitia disibukkan untuk mencari sponsor kegiatan bedah buku tersebut, selama ini kami (panitia) sudah mendatangi beberapa tempat atau instansi untuk kami ajak kerjasama, tetapi saying hingga hari ini belum ada pihak yang mau berpartisipasi dalam kegiatan bedah buku kami. Kesuliatan mencari sponsor tersebut inilah yang menybabkan pikiran-pikiran yang menjadi beban saya semakin bertambah karena sudah semakin dekatnya waktu pelaksanaan kegiatan.
Dari kelelahan dan beban itulah, saya dihadiahi sebuah mimpi; sebuah mimpi yang telah saya cita-citakan ketika saya mulai menyandang status sebagai mahasiswa di kampus tercinta ini. “aku menjadi seorang mahasiswa yang pantas diperhitungkan oleh teman-teman mahasiswa lainnya, oleh dosen aku di kenal cerdas dalam menangkap setiap pelajaran yang diberikan di bangku kuliah, di jajaran aktivis organisasi aku juga termasuk orang yang mempunyai kendali besar untuk memutuskan sesuatu.
Setiap orang di kampus ini mungkin mengenalku,di kalangan mahasiswa jurusan, aku telah beberapa kali menjadi mahasiswa berprestasi mengalahkan semua mahasiswa jurusan dari mahasiswa baru hingga mahasiswa yang sudah tingkat lanjut. Indeks Prestasiku tidak pernah turundari kisaran 3.89 adalah alasannya walau aku adalah mahasiswa yang super sibuk, dan aku juga sering mewakili jurusan dan universitas dalam lomba karya tulis, baik itu ditingkat provinsi atau ditingkat nasional sekalipun, karena pertimbangan-pertimbangan itulah aku menjadi mahasiswa paling dikenal dan menyandang mahasiswa terbaik di jurusanku.
Oleh karena itu, dosen-dosen diseantero kampus jadi mengenalku. Di kalangan birokrasi kampus, pegawai TU seperti sudah bosan meyalani aku dalam pengambilan beasiswa karena setiap kali ada lowongan beasiswa, aku selalu menjadi prioritas utama Pembantu Dekan III untuk mendapatkannya, tak terhitung jumlahnya, yang jelas para pegawai TU tersebut sudah bosan melihat aku dan aku lagi yang mendapatkan beasiswa-beasiswa tersebut.
Di samping itu, di kalangan mahasiswa aktivis intra kampus atau extra, aku telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia aktivis. Aku telah beberapa kali menjadi stake holder di berbagai oraginasasi. Di awal tingkat pertama, aku telah mengukirkan namaku sabagai ketua himpunan mahasiswa termuda sepanjang sejarah himpunan tersebut terbentuk, bukan tanpa sebab karena pada masa orientasi mahasiswa baru keberadaanku sudah tercium oleh beberapa organisasi extra kampus untuk dikaderkan dan pencalonanku tersebut adalah buntut dari kemandulan program-program jurusan yang tidak bias diterjemahkan oleh himpuanan jurusan tersebut hingga tercium ketidakharmonisan antara kedua belah pihak. Melihat bakat dan kedekatanku dengan dosen inilah, teman-temanku mengajukan aku sebagai ketua himpuanan jurusan, yang diharapkan akan menjadi jemabatan ketidakharmonisan jurusan dengan himpunan jurusan,
Hingga pada akhirnya, amanat-amanat yang telah diperacayakan kepadaku tadi, aku jawab dengan sebuah hasil yang membanggakan. Dari sinilah karir organisasiku semakin meroket, setelah lepas dari jabatan sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan, aku kembali terpilih menjadi ketua Badan Ekskutif mahasiswa Fakultas.
Sebenarnya aku agak sedikit ragu untuk mencalonkan diri sebagai ketua BEM fakultas, namun setelah shalat istikhoroh dan banyak teman-teman yang mendukungku akhirnya, aku berani maju mencalonkan diri dalam perebutan ketua BEM fakultas walau hanya satu partai saja yang mendukungku. Ternyata aku terpilih menjadi ketua BEM fakultas denga perolehan suara yang sangat significan mengalahkan dua sainganku lainnya.
Dari jabatan-jabatan tersebut, aku menjadi sering terjun untuk mencari dana dari sponsor untuk mendanai kegiatan-kegiatan oraganisasi. Dari siniliah, aku mempunyai banyak kenalan di berbagai instansi, dari mulai pegawai pemerintah hingga perusahan swasta yang paling bonafit karena kemasan kegiatan-kegiatanku selalu mendapatkan apresiasi tinggi di kalangan mahsiswa maupun di kalangan masyarakat umum, dan Alhamdulillah selalu berjalan lancar, dan aku tidak pernah merasa kesulitan dalam mencari sponsor untuk kegiatan-kegiatan organisasiku.
Selian kiprahku di bangku kuliah dan organisasi. Namaku sering muncul di Koran-koran terbitan local maupun skala nasional. Resensi buku, opini tema-tema terkait hari ini dan juga puisi sudah menjadi bagian lain kegiatanku sekaligus dalam rangka menambah kredit koin ata uang tambahan”.
Namun, tiba-tiba seorang teman kost mengetok pintu kamarku dan kisah suksesku di mimpiku tadi pun lenyap. Andai saja, mimpi itu bisa menjadi nyata, mungkin hari ini, esok dan seterusnya, saya tidak perlu repot untuk sekedar mengurus kegiatan regional semacam ini yang di perkirakan tidak bakal menelan banyak biaya, namun Karena keterbatasan kenalan di instansi negeri maupun swasta. Dan saya tidak perlu repot-repot mencari dosen pembimbing karena secara otomatis semua dosen akan mengenalku untuk mempersilakan bimbingan kapanpun dan dimanapun.
Hingga keesokan harinya, saya masih juga disibukkan untuk mencari sponsor kegiatan karena semakin dekatnya waktu pelaksanaan kegiatan tersebut dan saya juga akan terus mencari dosen pembimbing yang sangat sulit ditemui.
Saya sekarang menyadari bahwa mimpi-mimpi tersebut sudah terbang entah kemana, inilah realita yang ada; realita yang tak semanis mimpi, realita yang menyadarkan saya akan arti sebuah penyesalan yang tentunya terlambat untuk di kejar, realita yang telah menyadarkaku bahwa penyesalan selalu datang terlambat, realita yang terlambat ku sadari dalam perjalan proses kehidupan saya. Namun, semua yang kita rencanakan belum tentu kehendakNya.
No Response to "Ketika realita tak seindah mimpi"
Posting Komentar