--
0

Dia ibuku, adalah wanita pertama dalam hidupku
Yang menyayangi dan mencintai aku
Dia ibuku, adalah mahkota yang terukir indah dalam hati
Yang mempunyai singgasana di bawah telapak kaki
Dia ibuku, adalah hujan yang matahari kirimkan
Saat kemarau datang melanda
Ibuku bukan wanita biasa
Dia ibuku, adalah bendungan terkokoh dalam hidup
Yang siap menahan gempuran ombak samudera
Dia ibuku, adalah pejuang yang menyelamatkan kami
Saat yang lainnya mati
Ibuku, sungguh luar biasa

--
0

Pagi yang lalu, bumi berguncang
Dengan usil membangunkan mereka
Yang masih terlelap dalam mimpi panjang
Di selatan dan sekeliling Djokdja

Ini nyata…!
Bukan sekedar slogan biasa dalam “DAGADU”
Bukan pula omong kosong sang feudal
Tapi mereka benar berduka di akhir pecan
Di akhir April


Malioboro sepi
Parangteritis begitu keritis
Bahkan Prambanan menjadi korban
Mereka berkabung

Tapi ternyata Djokdja tertipu
Orang pintar tak lagi bernalar
Orang kejawen sudah tak percayai mitos
Masa lalu

Tiga ribu mayat terkulai, pupus
Tapi bukan korban Merapi meletus
Sekali lagi Djokdja tertipu, halus
Dari penghuni samudera lewati sang bulus

Ada apa ini…?
Ternyata bukan letusan Merapi
Seperti harapan
Melainkan gempa
Di luar dugaan

Dan Djokdja pun tertipu….

--
0

Hembusan angin malam, menantangku tak berselimut
Tak ada aura hangat, yang menjadi semangat
Walau detik dunia selalu akan menyengat
Tentang kebersamaan dalam balutan penat

Waktu, seakan mengasingkan aku
Satu per satu dedaunannya gugur, gundul tak seperti dulu
Mudah sang halilintar untuk menyambar Satu
Hingga tergolek lemas tak ada yang membantu

Tentang arti hidup, peristiwa ini mengajarkan semua
Dari abjab A hingga Z yang belum terbuka, sekarang ada
Di hadapanku semuanya berdiri
Mengajari arti sebuah sendiri
Karena aku, terbiasa sendiri

--
0

Untuk kau yang manis
Barisan kata ini ku tulis
Menumpukkan satu kata hati tulus
Meski jauh dari salutan bagus
Beribu peri memanggil jiwaku yang haus
Akan embun yang menetes
Di pagi yang berhawa halus
Denganmu, manis!!!!!!!!!!

--
0

Sudah ku daki gunung itu
Dengan peluh keringat basahi kalbu
Perlahan aku tersilaukan tingkahmu
Yang membuat kecewa setengah kaku

Adakali senyummu hantui hati
Saat iblis membelaiku penuh kemesraan
Namun biadabmu leburkan harap
Ketika malaikat tegakkan taat,--

--
0

Kau bersembunyi dalam pekat malam
Tertunduk malu
Bertabur rasa ingin tahu
Sekumpulan resah pun datang
Hinggapi hati

Kala rindu tiba
Genapkan derita
Pejamkan segera mimpi dan cerita
Untuk menanti esok yang masih tanda Tanya,---?

--
0

Wajah yang bercampur debu
Berderu mengecup embun
Berapa lama aku tersingkir
Dalam lingkaran yang tak ku kenali
Sejauh mata menutup hati
Tak kudapati setetes kesegaran
Yang dirasakan orang di depan mata
Begitulah aku!!!