Dia ibuku, adalah wanita pertama dalam hidupku
Yang menyayangi dan mencintai aku
Dia ibuku, adalah mahkota yang terukir indah dalam hati
Yang mempunyai singgasana di bawah telapak kaki
Dia ibuku, adalah hujan yang matahari kirimkan
Saat kemarau datang melanda
Ibuku bukan wanita biasa
Dia ibuku, adalah bendungan terkokoh dalam hidup
Yang siap menahan gempuran ombak samudera
Dia ibuku, adalah pejuang yang menyelamatkan kami
Saat yang lainnya mati
Ibuku, sungguh luar biasa
Pagi yang lalu, bumi berguncang
Dengan usil membangunkan mereka
Yang masih terlelap dalam mimpi panjang
Di selatan dan sekeliling Djokdja
Ini nyata…!
Bukan sekedar slogan biasa dalam “DAGADU”
Bukan pula omong kosong sang feudal
Tapi mereka benar berduka di akhir pecan
Di akhir April
Malioboro sepi
Parangteritis begitu keritis
Bahkan Prambanan menjadi korban
Mereka berkabung
Tapi ternyata Djokdja tertipu
Orang pintar tak lagi bernalar
Orang kejawen sudah tak percayai mitos
Masa lalu
Tiga ribu mayat terkulai, pupus
Tapi bukan korban Merapi meletus
Sekali lagi Djokdja tertipu, halus
Dari penghuni samudera lewati sang bulus
Ada apa ini…?
Ternyata bukan letusan Merapi
Seperti harapan
Melainkan gempa
Di luar dugaan
Dan Djokdja pun tertipu….
Hembusan angin malam, menantangku tak berselimut
Tak ada aura hangat, yang menjadi semangat
Walau detik dunia selalu akan menyengat
Tentang kebersamaan dalam balutan penat
Waktu, seakan mengasingkan aku
Satu per satu dedaunannya gugur, gundul tak seperti dulu
Mudah sang halilintar untuk menyambar Satu
Hingga tergolek lemas tak ada yang membantu
Tentang arti hidup, peristiwa ini mengajarkan semua
Dari abjab A hingga Z yang belum terbuka, sekarang ada
Di hadapanku semuanya berdiri
Mengajari arti sebuah sendiri
Karena aku, terbiasa sendiri