--
0

Sudah beberapa hari ini, terhitung sejak 23 Desember 2008, para penikmat televisi se-Malang raya harus gigit jari, kini masyarakat tidak mempunyai banyak pilihan untuk menyaksikan hiburan gratis dan akses informasi secara cepat yang biasa di dapat melalui televisi seperti yang diberitakan harian Surya 27 Desember 2008), ada beberapa stasiun televisi nasional maupun lokal terkena penertiban oleh Balai Monitoring Spektrum Frekwensi Radio dan Orbit Satelit kelas II.
Bila Andrea Hirata mendefinisikan cinta di dalam buku Edensornya (salah satu novel Tetralogi Laskar Pelangi) bahwa cinta adalah chanel televisi, maka hari ini, masyarakat se-Malang raya tidak mempunyai banyak pilihan untuk menentukan cintanya.
Adapun alasan yang diberikan oleh KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah), jelas merasa sangat kehilangan, di samping itu, imbas dari penertiban ini juga akan merambat kepada beberapa aspek masyarakat, apalagi disinyalir akan ada juga penertiban Radio.
Ada beberapa aspek yang akan ditimbulkan dari penertiban frekwensi Televisi dan Radio ini. Pertama, sudah pasti masyakat menengah ke bawah akan kehilangan hiburan dan informasi gratis, Willian Stepenson pernah mengatakan bahwa kodrat Televisi adalah menghibur, bahkan Neil Postman menambahkan, Televisi dapat menghibur diri hingga mati. Kedua, bila masalah penertiban Televisi dan Radio ini berkelanjutan, maka dipastikan akan ada penurunan pemasukan Televisi dari pihak sponsor, tentunya hal ini akan berdampak berkurangnya pemasukan dan pada akhirnya akan terjadi PHK-PHK baru.
Bila kenyataan ini terjadi, dipastikan kurva pengangguran di Indonesia pada tahun 2009 akan bertambah, catatan masyarakat yang akan menjadi rakyat miskin baru melonjak dan tentunya kondisi seperti ni rawan akan perilaku kriminal. Jelas sekali, hal ini akan merugikan pemerintah yang tengah gencar menekan angka pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah di tuntut jeli menanggapi masalah-masalah seperti ini.
Maka pantas apa yang dikatakan oleh Nurudin (1997) yang memberi salah satu bukunya; televisi, agama baru masyarakat modern karena pada tingkatan ini masyakata sudah terlanjur kecanduan tontonan televisi. Bila kita mengkaji kata “agama” yang dipakai dalam judul buku tersebut, di dalam bahasa Yunani kuno, “a” berarti tidak, dan adapun “gama” berarti kacau.kesimpulan yang diperoleh dari Televisi yang sudah menjadi agama ini merupakan alat untuk menekan angka kekacauan atau kriminalitas.
Mari kita sedikit menengok sejarah awal kemunculan Televisi di Indonesia pada tahun 1958 yang digagas oleh menteri penerangan, Maladi. Hingga 10 tahun kemudian, pada Agustus 1962, keinginan tersebut terlaksana dengan mengudaranya Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang menjadi televisi di Indonesia pada waktu itu.
Adapun awal dari kemunculan TVRI itu sendiri sejalan dengan cita-cita presiden Soekarno yang ingin menjadikan bangsa Indonesia sebagai mercusuar melalui penciptaan hal-hal besar, terutama dengan berdekatannya momen pemilu 1955 dan ASEAN GAMES, walaupun pada kenyataannya meleset dari momen pemilu.
Dari sebuah gagasan dan cita-cita besar presiden Soekarno, saat ini kita dapat menyaksikan saudara-saudara kita yang berda di seberang sana, melalui cita-cita besar itu pula, Indonesia dapat memajakan rakyatnya untuk mengakses setiap hiburan dan informasi kapan saja dan dimana saja. Namun, hari-hari ini, dunia (Malang raya) terasa sepi.

di muat di harian Surya, tgl 08 Januari 2009

No Response to "dunia terasa sepi"

Posting Komentar